Showing posts with label Series. Show all posts
Showing posts with label Series. Show all posts

Friday, December 9, 2022

First Love (2022)

Jadi sekitar dua minggu yang lalu, aku, Savira, sama Viki memutuskan buat nonton series ini. Kalo aku sih gara-gara tergiur sama trailernya sih, walaupun hype dari series ini kan gara-gara penulisnya terinspirasi dari lagunya Utada Hikaru yang 'First Love' (1999) sama 'Hatsukoi' (2018), yang emang booming banget di masanya. Diriku yang tau jejepangan sekilas-sekilas dari kakak juga nggak begitu tau dua lagu ini sih sebenernya. Tapi karena keliatannya bagus dan lagi pingin nonton film/series 'angst', akhirnya kita memutuskan buat menonton.


First impressionnya bagus sih seriesnya. Dari segi pengambilan gambarnya, warna suasananya, backsound lagu-lagunya, semuanya bagus dan tertata lah. Cuma sejujurnya agak kecewa sedikit sama ceritanya. Jadi, ini kan kisah cinta dua orang yang mereka ketemu pas SMA terus pacaran, terus mereka ada konflik, dan baru ketemu lagi pas mereka udah dewasa. Nah, bagian konflik ini yang menurutku agak kurang gimana gitu, soalnya konfliknya adalah tiba-tiba si cewek kecelakaan dan amnesia. Aku kira ceritanya yang bakal slice of life jadi berasa banget dramanya. Dan karena lagi aku udah sering berkali-kali nonton film/series Jepang yang konfliknya adalah salah satu tokohnya sakit. Ya mungkin bagus kalo cuma satu-dua gitu, tapi ini sering banget aku temuin. Jadi, semenjak konflik itu muncul penilaianku langsung berkurang, walaupun dalam penyelesaiannya pun ya lumayan bagus lah.

Nah, hal kedua yang menurutku bikin series ini cukup drama adalah si cowoknya. Ya emang sih kalo series romance kan udah kayak di dunia ini cuma ada dua orang ini dan yang lainnya cuma numpang, jadinya happy ending adalah ketika si cowok balikan lagi sama si cewek. Tapi masalahnya, sebelum mereka balikan lagi ini, si cowok udah tunangan sama cewek lain. Terus gara-gara ketemu sama cinta pertamanya tiba-tiba dia langsung jadi nggak sreg lagi sama tunangannya. Kan kalo ditinjau dari kacamata real life kan jadi kurang ajar banget yak si cowok ini wkwk.

Akhirnya setelah kita selesai menonton series ini kita mengambil hikmah apa yang bisa didapatkan *dah kayak film moral banget*, ya intinya kalo di kehidupan nyata, kasian Tsunemi (tunangan si cowok) dan seharusnya kalo emang udah tunangan segala macem kan ya udah gitu, fokus ke kehidupan selanjutnya, nggak berarti harus kembali mengejar lagi di masa lalu. Karena pada akhirnya kita juga bisa mencintai setelah menikah, nggak melulu mencintai sebelum menikah. *nggak tau juga kenapa kesimpulannya jadi kek begini*. tapi emang kejadian kayak gitu di real life bakal sangat tidak baik untuk dilakukan sih ya. 

Jadi, kalo dari aku sendiri merating film ini 4 dari 5 lah. Bagus tapi masih kurang -- atau mungkin bukan genre ku juga sih. 

Saturday, October 15, 2022

October μ•ˆλ…•!

Malang pagi ini hujan dan suasananya nyaman banget buat narik selimut dan lanjut tidur lagi. Tapi, entah kenapa suasanya hujan malah bikin aku semangat. Dari pagi udah bangun dan beres-beres kamar -- walaupun hari ini hari Sabtu. Lucu ya? Manusia terkadang punya definisi dan perasaan yang berbeda pada suatu kondisi dan sangat wajar walaupun berbeda dari persepsi orang kebanyakan.

Sudah kurang lebih dua bulan mencicipi dunia perkuliahan master yang ternyata sangat banyak butuh adaptasi, dan bentuk adaptasi itu salah satunya adalah bentuk penerimaan. Banyak hal baru yang aku alami selama kuliah di tempat baru ini. Dari suasananya, teman-temannya, dosennya, dan segala hal termasuk juga di sisi keluarga. Punya pemikiran baru dalam menjalani kehidupan, walaupun di tempat yang sama, jadi kayak memberi sebuah pengalaman yang baru aja. Ya mungkin itu salah satu bentuk kedewasaan ya... ya walaupun banyak naik turunnya juga sih. Tapi memang hal baru yang aku tangkap dan sedang aku olah adalah bagaimana cara memproses segala bentuk rangsangan dari luar untuk tetap dipikir dulu sebelum mencernanya dan berubah menjadi sebuah perasaan atau sikap. Pada akhirnya memang otak jadi lebih bekerja daripada cuma sekedar hati yang dari dulu selalu lebih kuat posisinya -- ya dengan catatan masih banyak juga sih naik turunnya. Tapi dengan aku bisa menulis hal ini rasanya aku sudah bisa memposisikan hal tersebut menjadi suatu yang bisa aku pegang dan, harusnya, bisa aku atur juga.

Sejak kuliah juga ku jadi sering nontonin drama lama buat peneman ngerjain tugas πŸ™ƒ karena kalo disambi sambil nonton drama baru malah nggak bisa fokus jadinya. Sekarang pun juga lagi nggak nonton drama lagi seberesnya Little Women kemarin :( masih bingung mau attach ke drama mana lagi -- astaghfirullah harusnya kurang-kurangin lah ya dil. Jadinya sekarang drama yang lagi aku tonton sambil nugas adalah Reply 1988. Sebagai dari dulu tim Taek, suka-suka aja sih sama endingnya, tapi gara-gara itu juga nggak begitu merhatiin bagian gimana Jungpal mengakhiri perasaannya ke Deoksun. Baru banget pagi ini nonton bagian itu dan wah banget sih, jleb banget kata-katanya.


Bukan cuma dalam hal romansa sih hal ini relate. Tapi juga sama kehidupan sehari-hari. Antara keraguan dan keinginan yang muncul kok ya biasanya munculnya bersamaan. Ya Allah merasa tertampar banget. Emang makanya katanya apa-apa ga boleh ragu. Kalo udah memutuskan ya emang harus diusahakan ya. Tapi hal ini emang menjadi proses sih. Keragu-raguan yang masih sering muncul semoga berkurang dan ditambah keyakinannya, biar hasilnya maksimal. Hmm memang butuh-butuh banyak berdoa supaya keraguan semakin menurun dan dihindarkan dari bisikan-bisikan yang bikin keraguan naik lagi.

Ya intinya dengan dimulainya perkuliahan ini, rasanya jadi banyak belajar. Nggak cuma di bidang ilmu juga tapi di bidang kehidupan. Makin ke sini rasanya banyak banget ruang yang ada, nggak cuma satu hal itu melulu. Jadinya kadang fokus berkurang tapi juga kadang bikin jadi lebih nggak stress juga sih. Apalagi kalo mikirnya dunia ini ya emang cuma sekedar dunia yang nggak boleh terlalu dikejar. Semangat buat kita semua 😼

Monday, June 13, 2022

μš°λ¦¬λ“€μ˜ λΈ”λ£¨μŠ€ (Our Blues) (2022)

Salah satu drama di tahun ini yang berhasil aku selesaikan dengan baik. Awalnya tertarik nonton drama ini karena Kim Woo Bin akhirnya main drama lagi setelah terakhir main di tahun 2016. Berlatar belakang di desa Peureung, Jeju, aku pikir drama ini bakal seceria Hometown Cha Cha Cha yang warga Gongjinnya bakal susah dilepas, nyatanya berbeda sekali.


Seperti yang sudah aku bilang tadi, latar belakang drama ini ada di Pulau Jeju. Pulau yang kita tahu sebagai tempat liburan orang-orang, pulau buat healing cenah. Tapi kan itu buat turis yak, drama ini lebih menyoroti ke kehidupan warga Jejunya sendiri yang di dalam cerita ini, nggak seindah Pulau Jeju itu sendiri. Jadi, 'blues' di sini bisa dimaknai dua arti antara biru yang memang latar belakang mereka ada di pantai dan biru yang berarti kesedihan.

Sebenarnya ketika menonton drama ini, aku ada pengalaman love and hate sendiri sama dramanya--walaupun banyak lovenya. Hal pertama yang bikin aku attached sama drama ini adalah konsepnya ceritanya yang cukup unik. Jadi, secara keseluruhan drama ini ada beberapa playlist yang tiap playlistnya adalah cerita dari warga-warga Peureung. Bisa tiap episode ganti playlist atau malah dalam satu episode ada dua playlist. Jadinya tiap playlistnya mulai dimainkan, penonton bakal fokus sama permasalahan yang ada di playlist itu, jadi nggak bingung atau lost gitu walaupun ada karakter-karakter lain masuk.

Hal kedua yang aku adalah penataan suara-slash-musik-slash-backsound. Drama ini bener-bener isinya masalah orang-orang, tapi penataan lagu-slash-musiknya dibikin nggak yang mendramatisir tapi lebih ke nunjukin 'oh ini cuma drama loh yang lu tonton' jadi penonton nggak terlalu dibikin makin sedih sama nada-nada musiknya. Atau di beberapa scene memang dibikin momen-momen nggak ada backsound sama sekali dan tanpa itu pun emosi-emosi dari pemainnya juga bisa kita rasain. Intinya penataan suaranya cucok banget lah.

Hal ketiga yang bikin aku suka dan bikin aku sempat nggak mau lanjutin nonton adalah dari segi ceritanya sendiri. Konfliknya bermacam-macam sekali. Dari cinta pertama yang ketemu lagi setelah dua puluh tahun tapi malah minta duit, anak ranking 1 sama 2 di sekolah yang pacaran dan malah ceweknya hamil, masalah antar bapak-bapak, antara saudara kembar, ibu ke anak, nenek ke cucu, sampe ada juga yang masalah sama diri sendiri. Macem-macem banget lah. Tapi di akhir episode semua masalah itu selesai dan berlalu.

intinya jangan berlarut-larut dengan kesedihan--ini lagi ngingetin diri sendiri kok

Beres nonton ini beneran ikutan lega sama semua masalah warganya yang akhirnya terselesaikan. Kalo drama-drama lain bikin aku pingin aku tonton ulang, tapi drama ini rasanya bener-bener bakal aku tonton sekali ini aja. Di scene terakhir yang mereka semua kumpul buat tanding antar desa bener-bener udah cocok jadi penutup drama ini dengan tagline 'apapun masalah yang ada hidup harus tetap berjalan'.

--

Hal-hal yang aku suka dari nonton drama kayak gini adalah banyak banget life lesson yang ikut dipelajari--jiakh buka les-lesan apa gimana. Tapi beneran sih, semacam baca novel atau drama yang konfliknya tentang kehidupan sehari-hari bikin kita lebih mikir dua kali buat jahat sama orang atau sebel sama orang, karena tiap orang pasti punya permasalahannya masing-masing. Buat bertahan hidup di dunia ini emang butuh ketangguhan dan akan dipermudah salah satunya dengan adanya kebaikan dari orang lain.
overnight cookies © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.