Friday, June 21, 2024

7 Oktober



Aku nonton video ini gara-gara direkomendasikan pas ikutan salah satu kelas di Uchiba (kelas di YN). Di video ini sebenernya yang dibahas Pak Gita dan Pak John (penulis Israel Lobby) adalah tentang sikap yang diambil Amerika di berbagai konflik negara di seluruh dunia saat ini (Rusia-Ukraina, China, dkk.) Dan bahasan ini juga menyentuh ke 'konflik' yang terjadi di Palestina sekarang. Bahasannya mulai dari gimana hubungan Amerika-Israel sampai ke pembahasan two-state solution. Hal yang mengejutkannya adalah dari bahasan two-state solution ini adalah dinyatakan oleh Pak John di video ini bahwa Israel sendiri tidak menyetujui adanya two-state solution antara Israel dan Palestina.

Pak John bilang bahwa dari awal munculnya keberadaan Yahudi dari tahun 1920an di tanah Palestina dan sampai ada keputusan absolut pembagian wilayah West Bank dan Gaza di tahun 1967, Israel mau seluruh wilayah Palestina adalah milik Israel seutuhnya. Tidak pernah ada keinginan pembagian negara. Hanya ada keputusan bahwa tanah ini milik Israel dan selain Israel harus pergi atau dihilangkan. Oleh karena itu, mungkin tidak asing bagi kita semua yang paham dengan sejarah bahwa selalu terjadi 'konflik' antara Israel dengan Palestina sejak kedatangan mereka. Kejadian utama yang paling besar dan sebagai pengawal adalah kejadian Nakba di tahun 1948 yang kemudian diikuti kejadian 'pembantaian-pembantaian' yang terjadi tiap waktunya. Kadang sampai masuk berita kadang hanya satu-dua orang meninggal yang tidak sampai diliput oleh berita. Hingga kemarin kejadian yang terjadi di tanggal 7 Oktober 2023 yang membuat hampir seluruh orang marah sampai saat ini.

Aku termasuk orang yang baru sadar dengan 'konflik' di Palestina di tanggal 7 Oktober kemarin. Sebelum-sebelumnya, aku sadar bahwa ada 'konflik' antara Palestina dan Israel tapi aku termasuk orang yang menganggapnya terlalu complicated untuk diselesaikan. Dibayanganku sebelum tanggal 7 Oktober kemarin adalah orang-orang ini hanya sekedar memperebutkan wilayah dan dari pihak Palestina sendiri ada kelompok militan yang selalu ingin mengambil wilayah lahan orang lain. Itu yang ada dipersepsiku dulu. Tapi setelah 7 Oktober dan setelah aku belajar lebih dalam lagi tentang sejarah yang terjadi, persepsiku ini merupakan bentuk propaganda yang berhasil dimasukkan oleh media-media besar terkait 'konflik' di Palestina. Yaa istilahnya termakan oleh media. Padahal sejarahnya nggak begitu.

Dari penjelasan Pak John, bahwa yang terjadi dari awal, sejak Israel datang ke Palestina, adalah ethnic cleansing. Kalo dipikir-pikir, di tahun 1967 setelah 'Six-Days War' di mana PBB kemudian membagi wilayah Israel dengan Palestina dan Palestina mendapat jatah Gaza dan West Bank, hanya sekedar meredam kemarahan publik. Karena di kemudian hari, wilayah Gaza dan West Bank yang menjadi wilayah Palestina itu semakin menyusut akibat banyaknya penduduk Yahudi yang secara tiba-tiba datang dan mengakuisisi rumah-rumah rakyat Palestina.

Kejadian 7 Oktober kemarin, yang diawali dengan adanya serangan Hamas, membuat Israel memanfaatkan itu untuk memiliki hak 'mempertahankan diri' dengan nggak hanya menyerang Hamas tapi seluruh rakyat sipil Palestina di Gaza. Mungkin banyak orang yang mikir kenapa sih Hamas harus nyerang dan bikin Israel 'murka' dan meluncurkan beratus ton bom di wilayah Gaza? Tapi mungkin ini salah satu cara yang harus dibayar agar seluruh dunia sadar dengan penindasan Israel dan kondisi rakyat Palestina. Bahasanya cukup ngeri sih. Tapi untuk menyadarkan seluruh manusia di dunia ini perlu banyak orang mati secara tragis agar kita tahu bahwa Israel dan teman-temannya itu nggak sebaik itu dan dunia nggak sepolos itu.

Udah mau 9 bulan dari kejadian 7 Oktober kemarin. Amerika masih tetap menyuplai Israel dengan beratus-ratus roket untuk 'mempertahankan diri' mereka dari rakyat sipil Palestina. Amerika membangun dermaga di Gaza yang katanya untuk menyalurkan bantuan untuk Palestina tapi ternyata untuk membunuh 200 orang rakyat sipil Palestina. Tentara IDF masih tetap meledakkan rumah-rumah di Gaza dan menjarah harta rakyat Palestina. PBB masih nggak mampu untuk menghentikan serangan Israel ke Palestina. ICJ yang katanya sudah memberikan sanksi hukuman masih tetap nggak mampu memberhentikan invasi darat Israel ke Palestina. Drone-drone bising Israel masih tetap mengudara di langit Palestina setiap harinya. Para pemimpin dunia masih tetap diam masih dengan tenang menjalankan bisnis entah apa itu.

Kadang kita ngerasa nggak berdaya lihat berita setiap hari dengan kengerian foto-foto yang tersebar. Bayi-bayi yang kepalanya buntung. Anak-anak mati kelaparan yang tersisa hanya kerangka dan kulit. Kerangka-kerangka manusia yang ditemukan berserakan tanpa terkubur di beberapa tempat karena kesulitan untuk dijangkau. Manusia-manusia mati tergeletak di jalanan. Bayi-bayi tertimbun reruntuhan dan mati dengan salah satu bola matanya yang mencuat. Mayat manusia yang dilindas oleh tank tentara IDF dan hancur lebur. Mayat manusia yang diseret oleh tank tentara Israel. Bom-bom yang menjatuhi tenda pengungsian hingga rumah sakit. Rekaman video anak kecil yang terjebak disebuah mobil bersama dengan keluarganya yang sudah mati ditembaki tentara IDF. Kesulitan air, makanan, banjir ketika hujan deras di tenda pengungsian. Potongan kaki, potongan tangan, serpihan daging, serpihan tulang rahang,... .

Dari segala kengerian ini, takbir mereka di kedua lebaran ini masih lantang dan masih menyambut Allah dengan segala suka cita. Ya Allah... . Intinya, harusnya dengan segala penderitaan mereka yang sudah mereka rasakan harusnya tanggal 7 Oktober ini menjadi titik balik kita dalam melihat dunia. Masih banyak yang harus kita perjuangkan. Pemegang kemenangan memang Allah, tapi kita pastinya mau menjadi bagian menuju kemenangan itu. Palestine will be free.

Thursday, May 30, 2024

When Will It Stop

I've been intrigued by writing about this topic since 2022. It's about Korean pop culture, which is spreading and booming internationally now. No one in this world knows about Korean culture, even the elders in our country. Bu Megawati knows it too, for your information. She said things about anyeong haseyo and saranghae in their political party meeting.

Okay, it's time for TMI (too much information).

SO! I've been exposed to Korean culture since I was a junior high schooler circa 2010-ish. Since then, I have kept hyping and cheering for all the boy and girl groups that made a comeback by watching their comeback stage and downloading the music video (in Indonesia at that time, the internet was so limited for the middle range, so it's better to download it, and then you can watch it over and over). I also watch Korean dramas and reality shows. It happened like 2 years in my junior high school for my K-pop era. When other kids listen to Taylor Swift, Coldplay, and Westlife (?), my small circle of friends and I listen to Korean pop. Back then, people watched us as cringe people because we hyped the K-pop idol :)

When I entered the boarding school for senior high school, my K-pop era was over. My internet access was limited, and there were strict rules about accessing the K-pop thingies. But I still had access when I was home. I asked some friends about their collection of Korean dramas and some music videos. But I was too focused on academics, so I couldn't enjoy it.

Things were getting really different when I entered the university era. I never thought that people were still talking about K-pop. I mean, everyone that I knew talked about it. I continued to watch dramas and reality shows, but not for the boy and girl groups. I found it hard to remember every member's name and face, so I dropped it.

But in 2020-ish, I found an interesting Korean band during the COVID era. It's Day6. I found them unique and their music on point. I love semi-rock music, so Day6 became an eargasm for me. But you know, in 2020, they were in their hiatus era. So, every member was out of duty except for one named Jae. In their hiatus era, Jae was streaming daily, playing games with some friends, and sometimes he produced some songs. The other members were not as active as Jae. Sometimes, they just do some live and mc-ing radio. Actually, the one that made them on hiatus was Jae. He struggled with his mental health. He told the viewers that the K-pop industry was so strict, and they made their idols as products to sell. So, they make it as perfect as possible, and they can't make decisions independently. Everything was ruled.

On their hiatus, they made one album named Negentropy. That was the last time I joined the hype of the comeback album. Even though there was no comeback stage, I was happy. But you know everyone makes a mistake, and it does, Jae. About one or two months later, he made a blunder and controversial statement about his friends. Everyone was outraged about it. So he decided to get out of the K-pop industry and from Day 6. We were upset back then, but it may be the best decision.

Two years after that thing happened. Day6 came back with four members, and Jae continued to produce his solo songs and even albums. And you know, since October 2023, there has been a big massacre and genocide happening in Palestine. Everyone came out to the streets, protesting to the government and world leaders about why this genocide could not be over until now. Everyone tried their best in every aspect until they entered the entertainment industry. They keep silent and do not talk about it, even if they have a more enormous follower. Some pro-Palestine even make a blockout list to block every single artist who doesn't show their stance in this genocide. You know, being neutral in this genocide is not a choice. When people say 'It's complicated', no, it is not. It's not complicated because already 40.000++ (May 30th, 2024) people have become martyrs in Palestine. 

This silence also happens in the K-pop industry. Everyone is so silent that it is as if nothing has happened, as this earth has two different skies. They kept making comebacks and making concerts, but no one talked about Palestine. Even Day6. Their latest comeback also seems so suspicious. In their comeback teaser video, there is a property that some cities wrote in there, and Tel Aviv included. I mean, from all of the cities in the world, why did they choose it? And why they even put their property as if it were essential. It's tragic, actually. The songs kept sounding about humanity, about love, and about mental health, but when humanity decreased actually happened in Palestine, they kept it silent.

How about Jae? One thing that I knew: He is a human. When the genocide happened in Palestine, he shared it on his social media. I knew it! Getting out of the K-pop industry can make you more human. You can do everything you want without any policies hindering it.

So, this post is about the dark side of the K-pop industry. They make humans as dolls whom you can pamper as ideally as possible. You cannot say about humanity. Your job only entertains people; you cannot tell what is happening in your mind or your stance on something more significant. You only like a doll of your agency. That's it. Some artists even collaborate with brands that are on the boycott list. Everyone knew that Starbucks had an affiliation with Israel, but they kept their collab made good merchandise as if nothing had happened.

Isn't it dark? When will it stop? 

Friday, April 12, 2024

Perayaan Mati Rasa

Selama Ramadan kemarin, sebenernya merasa sangat campur aduk. Semangat untuk belajar sampai di tengah bulan terus kemudian merasa mati. Tetap berusaha untuk dengerin kajian, baca artikel buat nambah ilmu agama, dsb., tapi rasanya tetap, mati. Nggak ngerasa senang banget atau sedih banget. Nggak cukup aja. Nggak bisa ngerasain apa-apa.

Di akhir-akhir bulan juga sempat ikutan kelas Tazkiyatun Nafs, cukup membuka perspektif baru terhadap perasaan dan emosi dan pengertian tentang nafs. Dan hal ini membuka pandangan baru terhadap bagaimana aku melihat masalahku dan mungkin bagaimana harus menyelesaikan masalahku. Alhamdulillah aku masih bisa nangis. Masih bisa minta ke Allah dengan segala keinginan yang terbersit di sepuluh hari terakhir. Masih bisa merasakan sedikit emosi, walaupun nggak banyak.

Masih bisa ngerasa sedih kalo Ramadan akan berakhir tahun ini.

Selama perjalanan mudik kemarin, sempet bengong juga di jalanan. "Kayaknya aku nggak bakal bisa bahagia banget deh setelah ini." "Nikah? Mungkin hari H-nya habis itu bakal capek lagi dengan kehidupan pernikahan." "Lulus? Kayaknya aku nggak bakal sesenang aku lulus S1 deh kali ini." "Punya kerjaan? Ya cuma sesaat aja. Setelahnya mungkin aku bakal terombang-ambing dengan perasaan mau nggak mau selama ngelakuin pekerjaan itu."

Sampai pada satu titik di mana terlintas di pikiranku pada satu hal yang bikin aku seenggaknya senang, "Kayaknya saat ini yang bisa bikin aku senang kalo aku bisa masuk surga nanti deh, terus bisa ketemu sama Allah." Sama halnya dengan beberapa kajian yang sering aku ikuti kalo emang nggak ada yang bisa bikin di dunia kecuali kita ikut sama agamanya Allah, patuh sama Allah. 

Kadang suka lupa ya. Ketika mencoba nyari kebahagiaan di dunia dan yang dicari lewat makhluk-makhluknya juga. Bakal capek lagi. Menguras emosi lagi. Nggak ada yang pasti. Dan sifatnya sementara.

Tahun lalu ikutan kajian tentang ini dan langsung ngena di hati. Tahun ini ikutan lagi tapi ngerasa hambar rasanya. Baru kena lagi pas tiba-tiba merefleksi diri di perjalanan. Semoga Allah selalu bantu kita buat nyari dan terus jatuh cinta ke Allah berkali-kali dengan jatuh yang lebih dalam setiap kali jatuhnya.

< > Home
overnight cookies © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.